Laman

HIMAPRODI PKn STKI Muhammadiyah BONE

Kamis, 26 Juni 2014

Idealisme Pancasila

Idealisme Pancasila yang terkikis oleh perkembangan zaman


Pancasila adalah salah satu idiologi yang telah dirumuskan oleh Bung Karno yang berisikan tentang Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan /Perwakilan, dan keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, disini mari kita kupas bersama idealisme pancasila yang semakin terkikis oleh perkembangan zaman di era modernisasi baik ilmu pengetahuan dan teknologi.
                Sila pertama, ketuhanan Yang Maha Esa.Telah direduksi menjadi Keagamaan Yang Maha Esa dan ukuran “keesaaan” itu adalah besarnya jumlah penganut. Kita biarkan penguasa negara melakukan pembiaran pemaksaan terhadap kelompok atas klaim yang berstatus mayoritas. Tidak sedikit kebebasan yang diterapkan oleh pusat dan daerah yang diskriminatif dan melanggar kebebasan beragama, dan hak asasi manusia yang membuat perda-perda yang sesuai dengan aturan dalam agama tertentu. Terkait dengan sila pertama dengan bunyi Ketuhanan Yang Maha Esa ini adalah sebuah nilai final, sedangkan agama dalam konteks ini merupakan nilai instrumental yaitu jalan atau cara untuk menyadari keberadaaan dzat yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Dalam realita kehidupan kita ketuhanan sering disalah artikan sebab disini dijelaskan bahwa setiap individu berhak untuk memilih agama dan keyakinannya masing-masing, dimana kita ketahui setiap agama dan keyakinan memiliki dasar-dasar dan pedoman yang sudah dipercayai oleh para penganutnya yang tujuan dari semuanya ke arah kebaikan dan kesejahteraan umat manusia khususnya, dan alam semesta pada umumnya.
                Di Indonesia sendiri banyak terjadi kesalah pahaman dalam beragama ada sekelompok oknum yang menamakan dirinya sebagai kelompok yang membela agama  dimana mereka membela agamanya sampai tidak memikirkan kondisi masyarakat disekitarnya, bahkan mereka mengorbankan keluarganya sendiri demi memenuhi keinginan pribadi. Ini sangat disayangkan dalam negara dimana menganut idealisme pancasila yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan hak untuk hidup.
Sila kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab, tak hanya di abaikan dan dikebiri oleh kelompok  mayoritas beragama namun juga diabaikan dalam praktek pembangunan. Ketika mayoritas dari masyarakat memiliki hak dalam menentuakan suatu kebijakan yang dirasa dalam kelompok tersebut dapat menguntungkan pihak mereka tanpa melihat suara minoritas dari daerah tersebut yang terkesan tidak mencerminkan nilai kemanusiaan yang berkeadilan dan beradab sesuai dengan pancasila. Dalam prakteknya selalu berdasarkan konsep yang mengidentifikasi pembangunan dengan pertumbuhan ekonomi serta wealth production yang mengaburkan masalah-masalah normatif, keadilan, keberadapan (martabat) manusia, demokrasi. Tekanan pada kenaikan pendapatan, yang cenderung tidak memperhatikan mengapa dalam suatu kebijakan ini diputuskan, kita tidak melihat akar permasalahan yang menjadi penyebabnya. Sehingga penimbulkan rasa ketidakadilan dalam kehidupan bermasyarakat.
Sila Ketiga, Persatuan Indonesia. Dewasa ini bukan diaplikasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara , malah dirusak oleh rasionalisasi pembangunan selama ini. Ada beberapa daerah yang digali potensi alamnya demi kenaikan produk bruto (GNP), namun yang sangat menyedihkan daerah yang berpotensi akan kekayaan alamanya tidak tanggapi secara serius  dalam pebinaan dan pendampingan oleh pemerintah setempat agar dapat memberdayakan potensi-potensi sumber daya manusia yang tersedia sehingga nantinya  bisa mengelola  hasil kekayaan daerah tersebut, daerah seperti ini lalu diberi predikat “tertinggal” padahal bukan karena salahnya sendiri, melainkan karena ditelantarkan oleh proses pembangunan yang dirancang oleh pemerintah setempat, maka terjadi kecemburuan antar daerah yang menyebabkan perpecahan dalam suatu negara.
Disini nilai dari sila ketiga sedikit digoyahkan oleh masalah sepele yang seharusnya bisa segera diselesaikan secepat mugkin sehingga tidak timbul masalah-masalah baru yang akan semakin menumpuk dan menjadikan permasalahan semakin kompleks.
Sila keempat, Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, secara diam-diam dianggap tidak praktis yang sekarang diberlakukan voting dalam pengambilan keputusan, suatu cara yang tidak sesuai dengan nilai pancasila. Memang di masa kini di anggap tidak efektif apabila dilakukan musyawarah dikarenakan akan menyita banyak waktu untuk menyepakati suatu usulan atau gagasan namun ini adalah langkah yang sudah di anjurkan dalam sila keempat, buktinya ada di suatu daerah di Bali tepatnya dilingkungan Subak dan Banjar, desa di Jawa dan negri di Minangkabau, maka jalankanlah kehidupan yang konsepnya memungkinkan musyawarah berjalan.
Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, saat ini masih belum terwujud padahal suatu kebijakan fiksal bisa mewujudkan semua itu, praktik pembangunan berpotensi mewujudkan semua itu dengan catatan penguasa sadar bahwa rakyat indonesia, secara instingtifbagi yang kurang terpelajar, secara nalariah bagi yang terpelajar, menginginkan sekaligus to have more dan to be more sebagai ukuran keadilan.
Dari uraian di atas membuktikan bahwa nilai pancasila sedikit demi sedikit mulai memudar, kita sebagai Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia yang memiliki idiologi marhaenisme, dimana marhaenisme tersebut adalah Sosio-Nasionalis, Sosio-Demokratis dan Ketuhanan Yang Maha Esa. Yang merupakan inti sari dari pancasila yang menjadi idiologi Tanah Air Tumpa Darah negara kita. Sekarang apa yang akan kita lakukan 60 detik kedepan dan detik-detik selanjutnya akan mencerminkan wujud kepeduliaan kita  terhadap bangsa dan negara.
Apakah kita peduli atau kita ikut mengikis idiologi yang menjadi dasar dalam berorganisasi dan terumuskan oleh pahlawan besar yang pernah terlahir di Bumi Indonesia Bung Karno????????

        Konta Person
email        : edinaharto@gmail.com
facebook : nahartoe@yahoo.co.id
                 : edinaharto@gmail.com
twitter      : @Edhy_Tenritappu
No Hp      : 085299269780
Ping BB   : 2A50D901