Lontara' adalah naskah yang tertulis diatas daun
tala
yang mencatat topik-topik seperti sejarah, ilmu pengetahuan, adat dan
hukum. Lontara' lahir dari tradisi catatan harian yang memegang
peranan penting dalam budaya tulis orang Bugis, Makassar dan Mandar,
yang berisi banyak peristiwa penting. Penulis Lontara' umumnya orang
yang berpangkat tinggi. Lontara' pernah dipakai untuk menulis berbagai
macam dokumen, dari peta, hukum perdagangan, surat perjanjian, hingga
buku harian. Walaupun penggunaan aksara Latin telah menggantikan
Lontara, tulisan ini masih dipakai dalam lingkup kecil masyarakat Bugis
dan Makassar. Dalam komunitas Bugis, penggunaan Lontara terbatas dalam
upacara seperti pernikahan, sementara di Makassar tulisan Lontara kadang
dibubuhkan dalam tanda tangan dan dokumen pribadi.
Huruf-huruf yang tertulis didalam Lontara' dikenal dengan
urupu' sulapa' appa' (huruf segi empat) yang berbeda dengan aksara-aksara lain yang ada di
Indonesia.
Pada umumnya, aksara-aksara lain yang ada banyak dipengaruhi oleh huruf
Pallawa dari India, namun aksara Lontara' tidak dipengaruhi oleh budaya
lain. Ada yang berpendapat bahwa Lontara' merupakan turunan dari huruf
Kawi yang digunakan sekitar tahun 800-an, namun belum banyak bukti-bukti
yang mendukung mengingat perkembangan huruf Lontara' berumur lebih
muda. Sebenarnya, terdapat juga huruf Bugis-Makassar purba, yang
usianya lebih tua dari aksara Lontara', tetapi yang tetap lestari adalah
Lontara'. Selain aksara sendiri, masyarakat Bugis, Makassar dan Mandar
menggunakan dialek sendiri, sedangkan untuk suku lainnya di
Sulawesi Selatan
yaitu Toraja, tidak memiliki tradisi menulis, hanya memiliki tradisi
lisan. Walaupun demikian, sejarah ataupun pengetahuan-pengetahuan yang
diturunkan oleh pendahulu-pendahulu
Sa'dan Toraja masih tetap terpelihara hingga saat
ini.
Menurut sejarah, aksara Lontara diperkenalkan oleh
Sabannara' (Syahbandar) Kerajaan Gowa yang bernama Daeng Pamatte. Ketika itu Kerajaan Gowa diperintah oleh Raja Gowa IX
Daeng Matanre Karaeng Manngutungi yang bergelar
Karaeng Tumapakrisik Kallonna.
Daeng Pamatte yang lahir di Kampung Lakiung (Gowa), dikenal karena
kepandaiannya, sehingga ia dipercaya memegang dua jabatan sekaligus
yaitu
Sabannara' merangkap
Tumailalang (Pejabat Urusan Istana).

Didasari oleh kebutuhan dan kesadaran dari Raja Gowa pada waktu itu,
agar pemerintah kerajaan dapat berkomunikasi secara tulis-menulis, dan
agar peristiwa-peristiwa kerajaan dapat dicatat secara tertulis, maka Karaeng Tumapakrisik Kallonna
memerintahkan kepada Daeng Pamatte untuk menciptakan aksara yang dapat
dipakai untuk tulis-menulis. Pada 1538, Daeng Pamatte pun melaksanakan
dan berhasil mengembangkan Aksara Lontara yang terdiri dari 18 huruf .
Lontara ciptaan Daeng Pamatte ini dikenal dengan istilah Lontara Toa atau Lontara Jangang-Jangang (lontara' burung) karena bentuknya seperti burung. Lontara Jangang-Jangang atau Lontara Toa
ini tercipta dengan memperhatikan bentuk burung dari berbagai gaya,
seperti burung yang sedang terbang dengan huruf "Ka" burung hendak turun
ke tanah dengan huruf "Nga", bentuk burung dari ekor, badan dan leher
dengan lambang huruf "Nga".
Lontara' ciptaan Daeng Pamatte ini, mengalami perkembangan dan perubahan secara terus menerus sampai pada abad
ke-19. Perubahan huruf tersebut baik dari segi bentuknya maupun
jumlahnya yakni 18 menjadi 19 dengan ditambahkannya satu huruf yakni
"ha" sebagai pengaruh masuknya Islam. Aksara Lontara ini disebut juga Lontara Bilang-bilang (Lontara' Hitungan). Lontara Bilang-bilang ini diperkirakan muncul pada abad ke-16 yakni pada masa pemerintahan Raja Gowa XIV Sultan Alauddin (1593-1639).
Menurut Mattulada, Daeng Pamatte kemudian menyederhanakan dan melengkapi
lontara Makassar. Untuk keperluan bahasa Bugis ditambahkan empat huruf,
yaitu
ngka, mpa, nra dan
nca sehingga menjadi menjadi 23 huruf sebagaimana yang dikenal sekarang ini dengan nama Aksara Lontara Bugis-Makassar.
Pada saat itu masyarakat Gowa belum mengenal kertas sebagai
media
untuk menulis, dan aksara lontara' ini dapat dituliskan pada media apa
saja, baik itu batu, kayu, kulit hewan maupun daun-daunan. Pada nisan
kuno, kebanyakan tulisan ditulis dalam aksara lontara'. Juga pada kayu,
hanya saja usia kayu terbatas sehingga banyak yang lapuk. Agar lebih
mudah dan praktis hingga dapat dipakai untuk surat menyurat dalam
pemerintahan saat itu, maka ditemukanlah daun lontar yang merupakan
tumbuhan khas masyarakat Gowa. Oleh karena penulisan aksara belah
ketupat ini umumnya menggunakan daun lontar, sehingga masyarakat
Makassar saat itu memberinya nama dengan
urupu lontara', artinya aksara yang ditulis diatas daun lontar.
Aksara Lontara tidak mengenal hurup atau lambang untuk mematikan hurup
misalnya sa menjadi s. Ketiadaan tanda-mati ini cukup membingungkan bila
ingin menuliskan huruf mati. Juga, di banding aksara-aksara lain,
aksara Lontara tak memiliki semua fonem. Beberapa huruf ditafsirkan
secara teoretis dengan sembilan cara berbeda, dan ini juga kadang-kadang
menimbulkan masalah bagi penafsiran pembaca. Maka dari itu, di
masyarakat Bugis dikenal adanya
elong maliung bettuanna, yakni nyanyian dengan makna tersembunyi. Misalnya kata
buaja bulu' (buaya gunung) merujuk pada
macang (harimau). Ejaan
macang sama dengan ejaan
macca (pintar), yang menjadi makna turunan dari
buaja bulu'.
Penulisan Lontara' mempunyai perspektif yang luas sesuai dengan kondisi
sosial, budaya, ekonomi dan politik pada zamannya. Oleh karenanya
lontara' terdiri atas beragam jenis berdasarkan tema yang dikandungnya.
Berikut ini, beberapa jenis Lontara' Bugis yang dapat ditemukan saat ini
antara lain :
- Lontara' Pappaseng (Lontara' pepatah atau kata bijak) adalah
sekumpulan pedoman hidup yang berisi petuah tentang sebab akibat yang
berlaku pada masa lalu, masa sekarang, dan masa akan datang. Lontara'
Pappaseng merupakan kumpulan amanat atau pesan orang-orang bijak, orang
terkemuka atau keluarga, yang ditulis dan disuratkan, kemudian
diwariskan secara turun temurun. Paseng semacam ini dijadikan kaidah hidup dalam masyarakat. Paseng
ini ada kalanya berisi cara-cara pelaksanaan pemerintahan yang baik,
cara-cara pelaksanaan hubungan kekeluargaan dan sebagainya.
- Lontara' Paggalung (Lontara' bercocok-tanam) ialah lontara' yang
isinya menjelaskan keadaan-keadaan cuaca, musim, keadaan hujan,
tanam-tanaman yang baik ditanam dan lain-lain sebagainya. Dengan kata
lain, lontara' Paggalung merupakan lontara' yang banyak hubungannya
dengan pelaksanaan pertanian.
- Lontara' Sure'-sure' (surat-surat), lontara' yang berukuran kecil yang biasanya tidak banyak isi dan lembarannya, dinamakan sure'-sure'. Sure'-sure' ini bermacam-macam pula, antara lain Sure' eja-eja yang mengandung nyanyian-nyanyian yang biasa dinamakan eja-eja. Nyanyian eja-eja biasanya dinyanyikan pada saat masuk rumah baru, mengadakan perkawinan dan upacara-upacara yang lain. Sure'-sure' kotika
berisi keterangan mengenai hari baik dan hari buruk atau hari naas,
langkah baik atau langkah buruk dalam suatu perjalanan, untung ruginya
perdagangan, cocok tidaknya pasangan mempelai, ayam berbulu apa yang
menang apabila disabung dan lain-lain. Sure'-sure' Appanoreng Bine adalah semacam sure'-sure' yang dibaca pada waktu mengadakan upacara maddoja bine (berjaga benih pada waktu malam), yaitu pada malam menjelang akan disemaikannya benih padi pada keesokan harinya.
- Lontara' Pattaungeng (catatan harian), disamping berisi
masalah kehidupan pribadi, keluarga dan tetangga, juga berisi masalah
umum yang terjadi setiap waktu, seperti kelahiran dan kematian
seseorang, kejadian-kejadian luar biasa, baik yang mengandung nilai
sejarah maupun yang mengandung peringatan-peringatan lainnya. Lontara'
semacam ini biasa disimpan oleh anak cucu sang penulis dan menjadi
dokumen berharga bila penulisnya meninggal dunia.
- Lontara' Ade' (Lontara' adat) yaitu kronik adat atau Lontara' Pabbicara yang mengandung catatan-catatan hukum adat dan kebiasaan. Lontara' Ade' banyak membicarakan masalah hukum.
- Lontara' Uluada (perjanjian) mengandung himpunan rumus-rumus perjanjian antara satu kerajaan dengan kerajaan lainnya.
- Lontara' Allopi-loping (pelayaran) yaitu lontara' yang berisi hukum adat pelayaran. Termasuk batas-batas zona pelayaran yang berlaku saat ini.
- Lontara' Pangoriseng (silsilah), sering juga disebut stamboon atau stambuk, yang berisi tentang silsilah keturunan suatu keluarga.
- Lontara' Attoriolong (tata krama orang-orang dahulu) adalah
sekumpulan catatan-catatan mengenai asal-usul (silsilah) turun temurun
raja-raja, keluarga bangsawan dan keluarga tertentu. Dari attoriolong ini
biasanya dijadikan bahan untuk menyusun sejarah atau menyusun stambuk
seseorang. Disamping itu attoriolong berfungsi sebagai catatan-catatan
peristiwa yang lalu, yang dilakukan atau yang dialami orang dahulu kala.
Lontara' semacam ini banyak dimiliki oleh orang terkemuka. Lontara'
Attoriolong juga banyak menjelaskan hubungan perkawinan raja-raja
didaerah lain seperti Lontara' Akkarungeng Ri Bone.
- Lontara' Pau-pau ri Kadong (hikayat atau legenda) adalah
cerita rakyat yang mengandung legenda-legenda atau peristiwa-peristiwa
luar biasa yang masih diragukan kebenarannya. Pau-pau ri Kadong
melukiskan sesuatu dengan gaya metafora, yang tujuannya semata-mata
untuk memberikan daya tarik. Cerita seperti ini biasa diceritakan pada
waktu tengah malam agar orang yang sedang berjaga-jaga tidak mengantuk
dan sering juga dikisahkan oleh orang tua pada waktu meninabobokkan
buah-hatinya.
- Lontara' Pangaja (nasihat) adalah kumpulan pedoman hidup atau nasehat-nasehat yang diberikan oleh orang tua kepada anak keturunannya. Lontara' Pangaja ini muncul sebagai pengajaran bagi generasi berikutnya setelah seseorang melakukan perbuatan yang kurang baik.

Tradisi menggunakan huruf lontara mengalami perkembangan paling pesat
pada abad ke-17. Dengan pengaruh contoh-contoh Sastra Melayu maupun
Portugis, orang Makassar mulai menuliskan tarikh yang setiap fakta
memerinci pesatnya perkembangan Makassar. Tradisi yang sangat kokoh
bagi pencatatan masa lampau ini didorong oleh
Karaeng Pattingalloang (1600-1654),
yang memerintahkan seorang Ambon pelarian agar menulis sejarah Maluku
dalam Bahasa Melayu. Sebagai pemangku adat Kerajaan Makassar,
Karaeng Pattingalloang
membuat pembaruan-pembaruan istimewa dalam urusan pemetaan, letak
istana, penerjemahan naskah-naskah kemiliteran dari Bangsa Portugis,
Turki, dan Melayu ke dalam Bahasa Makassar. Di samping itu, kebiasaan
menuliskan kelahiran, perkawinan, dan perceraian dalam keluarga raja,
kedatangan kapal dan utusan, pembangunan benteng dan istana serta
berjangkitnya wabah dengan menggunakan sistem penanggalan ganda Masehi
dan Hijriah merupakan kebiasaan
Karaeng Pattingalloang.
Pada masa itu, penulisan dan penyalinan buku-buku Agama Islam dari
Bahasa Melayu ke Bahasa Makassar diatas lontar giat dilaksanakan.
Berbagai lontara yang asalnya dari Bahasa Melayu diduga berasal dari
abad ke-17 dan 18, masa permulaan perkembangan Islam di Sulawesi
Selatan. Lontara' yang dimaksud antara lain:
- Lontara' perkawinan antara Sayidina Ali dengan Fatima, putri Rasululullah
- Lontara' percintaan Nabi Yusuf dan Laila Majnun
- Sura’ bukkuru yang dalam bahasa Bugis dikenal dengan lontara pau-paunna Sultanul Injilai.
Lontara' tetap memilik identitas tersendiri yang berasal filosofi dan
budaya Makassar. Keterangan ini didukung oleh pendapat yang bersumber
dari Lontara
Patturioloanga ri Tugowaya, yang berbunyi sebagai berikut :
“...iyapa anne karaeng uru apparek rapang bicara, timu-timu ri
bunduka. Sabannara’na minne karaenga nikana Daeng Pamatte. la
sabannara’, la Tumailalang, iatommi Daeng Pamatte ampareki lontara’
Mangkasara”
(.. pada zaman raja inilah mula-mula dibuat peraturan, hukum dalam
perang. Syahbandar raja inilah yang disebut Daeng Pamatte. Ia
syahbandar, ia pengurus kerajaan, ia juga Daeng Pamatte yang membuat
Lontara' bahasa Makassar).
Referensi :
- Sanggarsenilontara.blogspot.com
- Kompasiana.com
- Iccank-comtar.blogspot.com
- Bugiswarta.blogspot.com
- Wikipedia.org