Laman

HIMAPRODI PKn STKI Muhammadiyah BONE

Selasa, 07 Oktober 2014

Lontara' : Media Pemikiran dan Kreativitas


Lontara' adalah naskah yang tertulis diatas daun tala yang mencatat topik-topik seperti sejarah, ilmu pengetahuan, adat dan hukum.  Lontara' lahir dari tradisi catatan harian yang memegang peranan penting dalam budaya tulis orang Bugis, Makassar dan Mandar, yang berisi banyak peristiwa penting. Penulis Lontara' umumnya orang yang berpangkat tinggi. Lontara' pernah dipakai untuk menulis berbagai macam dokumen, dari peta, hukum perdagangan, surat perjanjian, hingga buku harian. Walaupun penggunaan aksara Latin telah menggantikan Lontara, tulisan ini masih dipakai dalam lingkup kecil masyarakat Bugis dan Makassar. Dalam komunitas Bugis, penggunaan Lontara terbatas dalam upacara seperti pernikahan, sementara di Makassar tulisan Lontara kadang dibubuhkan dalam tanda tangan dan dokumen pribadi.

Huruf-huruf yang tertulis didalam Lontara' dikenal dengan urupu' sulapa' appa' (huruf segi empat) yang berbeda dengan aksara-aksara lain yang ada di Indonesia. Pada umumnya, aksara-aksara lain yang ada banyak dipengaruhi oleh huruf Pallawa dari India, namun aksara Lontara' tidak dipengaruhi oleh budaya lain. Ada yang berpendapat bahwa Lontara' merupakan turunan dari huruf Kawi yang digunakan sekitar tahun 800-an, namun belum banyak bukti-bukti yang mendukung mengingat perkembangan huruf Lontara' berumur lebih muda. Sebenarnya, terdapat juga  huruf Bugis-Makassar purba, yang usianya lebih tua dari aksara Lontara', tetapi yang tetap lestari adalah Lontara'.  Selain aksara sendiri, masyarakat Bugis, Makassar dan Mandar menggunakan dialek sendiri, sedangkan untuk suku lainnya di Sulawesi Selatan yaitu Toraja, tidak memiliki tradisi menulis, hanya memiliki tradisi lisan. Walaupun demikian, sejarah ataupun pengetahuan-pengetahuan yang diturunkan oleh pendahulu-pendahulu Sa'dan Toraja masih tetap terpelihara hingga saat ini.

Menurut sejarah, aksara Lontara diperkenalkan oleh Sabannara' (Syahbandar) Kerajaan Gowa yang bernama Daeng Pamatte. Ketika itu Kerajaan Gowa diperintah oleh Raja Gowa IX Daeng Matanre Karaeng Manngutungi yang bergelar Karaeng Tumapakrisik Kallonna. Daeng Pamatte yang lahir di Kampung Lakiung (Gowa), dikenal karena kepandaiannya, sehingga ia dipercaya memegang dua jabatan sekaligus yaitu Sabannara' merangkap Tumailalang (Pejabat Urusan Istana).

Didasari oleh kebutuhan dan kesadaran dari Raja Gowa pada waktu itu, agar pemerintah kerajaan dapat berkomunikasi secara tulis-menulis, dan agar peristiwa-peristiwa kerajaan dapat dicatat secara tertulis, maka   Karaeng Tumapakrisik Kallonna memerintahkan kepada Daeng Pamatte untuk menciptakan aksara yang dapat dipakai untuk tulis-menulis. Pada 1538, Daeng Pamatte pun melaksanakan dan berhasil mengembangkan Aksara Lontara yang terdiri dari 18 huruf . Lontara ciptaan Daeng Pamatte ini dikenal dengan istilah Lontara Toa  atau Lontara Jangang-Jangang (lontara' burung) karena bentuknya seperti burung. Lontara Jangang-Jangang atau Lontara Toa ini tercipta dengan memperhatikan bentuk burung dari berbagai gaya, seperti burung yang sedang terbang dengan huruf "Ka" burung hendak turun ke tanah dengan huruf "Nga", bentuk burung dari ekor, badan dan leher dengan lambang huruf "Nga".

Lontara' ciptaan Daeng Pamatte ini, mengalami perkembangan dan perubahan secara terus menerus sampai pada abad ke-19. Perubahan huruf tersebut baik dari segi bentuknya maupun jumlahnya yakni 18 menjadi 19 dengan ditambahkannya satu huruf yakni "ha" sebagai pengaruh masuknya Islam. Aksara Lontara ini disebut juga Lontara Bilang-bilang (Lontara' Hitungan). Lontara Bilang-bilang ini diperkirakan muncul pada abad ke-16 yakni pada masa pemerintahan Raja Gowa XIV Sultan Alauddin (1593-1639).

Menurut Mattulada, Daeng Pamatte kemudian menyederhanakan dan melengkapi lontara Makassar. Untuk keperluan bahasa Bugis ditambahkan empat huruf, yaitu ngka, mpa, nra dan nca sehingga menjadi menjadi 23 huruf sebagaimana yang dikenal sekarang ini dengan nama Aksara Lontara Bugis-Makassar.

Pada saat itu masyarakat Gowa belum mengenal kertas sebagai media untuk menulis, dan aksara lontara' ini dapat dituliskan pada media apa saja, baik itu batu, kayu, kulit hewan maupun daun-daunan. Pada nisan kuno, kebanyakan tulisan ditulis dalam aksara lontara'. Juga pada kayu, hanya saja usia kayu terbatas sehingga banyak yang lapuk. Agar lebih mudah dan praktis hingga dapat dipakai untuk surat menyurat dalam pemerintahan saat itu, maka ditemukanlah daun lontar yang merupakan tumbuhan khas masyarakat Gowa. Oleh karena penulisan aksara belah ketupat ini umumnya menggunakan daun lontar, sehingga masyarakat Makassar saat itu memberinya nama dengan urupu lontara', artinya aksara yang ditulis diatas daun lontar.

Aksara Lontara tidak mengenal hurup atau lambang untuk mematikan hurup misalnya sa menjadi s. Ketiadaan tanda-mati ini cukup membingungkan bila ingin menuliskan huruf mati. Juga, di banding aksara-aksara lain, aksara Lontara tak memiliki semua fonem. Beberapa huruf ditafsirkan secara teoretis dengan sembilan cara berbeda, dan ini juga kadang-kadang menimbulkan masalah bagi penafsiran pembaca. Maka dari itu, di masyarakat Bugis dikenal adanya elong maliung bettuanna, yakni nyanyian dengan makna tersembunyi. Misalnya kata buaja bulu' (buaya gunung) merujuk pada macang (harimau). Ejaan macang sama dengan ejaan macca (pintar), yang menjadi makna turunan dari buaja bulu'.

Penulisan Lontara' mempunyai perspektif yang luas sesuai dengan kondisi sosial, budaya, ekonomi dan politik pada zamannya. Oleh karenanya lontara' terdiri atas beragam jenis berdasarkan tema yang dikandungnya. Berikut ini, beberapa jenis Lontara' Bugis yang dapat ditemukan saat ini antara lain :
  1. Lontara' Pappaseng (Lontara' pepatah atau kata bijak)  adalah sekumpulan pedoman hidup yang berisi petuah tentang sebab akibat yang berlaku pada masa lalu, masa sekarang, dan masa akan datang. Lontara' Pappaseng merupakan kumpulan amanat atau pesan orang-orang bijak, orang terkemuka atau keluarga, yang ditulis dan disuratkan, kemudian diwariskan secara turun temurun. Paseng semacam ini dijadikan kaidah hidup dalam masyarakat. Paseng ini ada kalanya berisi cara-cara pelaksanaan pemerintahan yang baik, cara-cara pelaksanaan hubungan kekeluargaan dan sebagainya.
  2. Lontara' Paggalung (Lontara' bercocok-tanam) ialah lontara' yang isinya menjelaskan keadaan-keadaan cuaca, musim, keadaan hujan, tanam-tanaman yang baik ditanam dan lain-lain sebagainya. Dengan kata lain, lontara' Paggalung merupakan lontara' yang banyak hubungannya dengan pelaksanaan pertanian.
  3. Lontara' Sure'-sure' (surat-surat), lontara' yang berukuran kecil yang biasanya tidak banyak isi dan lembarannya, dinamakan sure'-sure'. Sure'-sure' ini bermacam-macam pula, antara lain Sure' eja-eja yang mengandung nyanyian-nyanyian yang biasa dinamakan eja-eja. Nyanyian eja-eja biasanya  dinyanyikan pada saat masuk rumah baru, mengadakan perkawinan dan upacara-upacara yang lain. Sure'-sure' kotika berisi keterangan mengenai hari baik dan hari buruk atau hari naas, langkah baik atau langkah buruk dalam suatu perjalanan, untung ruginya perdagangan, cocok tidaknya pasangan mempelai, ayam berbulu apa yang menang apabila disabung dan lain-lain. Sure'-sure' Appanoreng Bine adalah semacam sure'-sure' yang dibaca pada waktu mengadakan upacara maddoja bine (berjaga benih pada waktu malam), yaitu pada malam menjelang akan disemaikannya benih padi pada keesokan harinya.
  4. Lontara' Pattaungeng (catatan harian), disamping berisi masalah kehidupan pribadi, keluarga dan tetangga, juga berisi masalah umum yang terjadi setiap waktu, seperti kelahiran dan kematian seseorang, kejadian-kejadian luar biasa, baik yang mengandung nilai sejarah maupun yang mengandung peringatan-peringatan lainnya. Lontara' semacam ini biasa disimpan oleh anak cucu sang  penulis dan  menjadi dokumen berharga bila penulisnya meninggal dunia. 
  5. Lontara' Ade' (Lontara' adat) yaitu kronik adat atau Lontara' Pabbicara yang mengandung catatan-catatan hukum adat dan kebiasaan. Lontara' Ade' banyak membicarakan masalah hukum.
  6. Lontara' Uluada (perjanjian) mengandung himpunan rumus-rumus perjanjian antara satu kerajaan dengan kerajaan lainnya.
  7. Lontara' Allopi-loping (pelayaran) yaitu lontara' yang berisi hukum adat pelayaran. Termasuk batas-batas zona pelayaran yang berlaku saat ini.
  8. Lontara' Pangoriseng (silsilah), sering juga disebut stamboon atau stambuk, yang berisi tentang silsilah keturunan suatu keluarga.
  9. Lontara' Attoriolong (tata krama orang-orang dahulu) adalah sekumpulan catatan-catatan mengenai asal-usul (silsilah) turun temurun raja-raja, keluarga bangsawan dan keluarga tertentu. Dari attoriolong ini biasanya dijadikan bahan untuk menyusun sejarah atau menyusun stambuk seseorang. Disamping itu attoriolong berfungsi sebagai catatan-catatan peristiwa yang lalu, yang dilakukan atau yang dialami orang dahulu kala. Lontara' semacam ini banyak dimiliki oleh orang terkemuka. Lontara' Attoriolong juga banyak menjelaskan hubungan perkawinan raja-raja didaerah lain seperti Lontara' Akkarungeng Ri Bone.
  10. Lontara' Pau-pau ri Kadong (hikayat atau legenda) adalah cerita rakyat yang mengandung legenda-legenda  atau peristiwa-peristiwa luar biasa yang masih diragukan kebenarannya. Pau-pau ri Kadong melukiskan sesuatu dengan gaya metafora, yang tujuannya semata-mata untuk memberikan daya tarik. Cerita seperti ini biasa diceritakan pada waktu tengah malam agar orang yang sedang berjaga-jaga tidak mengantuk dan sering juga dikisahkan oleh orang tua pada waktu meninabobokkan buah-hatinya.
  11. Lontara' Pangaja (nasihat) adalah kumpulan pedoman hidup atau nasehat-nasehat yang diberikan oleh orang tua kepada anak keturunannya. Lontara' Pangaja ini muncul  sebagai pengajaran bagi generasi berikutnya setelah seseorang melakukan perbuatan yang kurang baik.
Tradisi menggunakan huruf lontara mengalami perkembangan paling pesat pada abad ke-17. Dengan pengaruh contoh-contoh Sastra Melayu maupun Portugis, orang Makassar mulai menuliskan tarikh yang setiap fakta  memerinci pesatnya perkembangan Makassar.  Tradisi yang sangat kokoh bagi pencatatan masa lampau ini didorong oleh Karaeng Pattingalloang (1600-1654), yang memerintahkan seorang Ambon pelarian  agar menulis sejarah Maluku dalam Bahasa Melayu. Sebagai pemangku adat Kerajaan Makassar, Karaeng Pattingalloang membuat pembaruan-pembaruan istimewa dalam urusan pemetaan, letak istana, penerjemahan naskah-naskah kemiliteran dari Bangsa Portugis, Turki, dan Melayu ke dalam Bahasa Makassar. Di samping itu, kebiasaan menuliskan kelahiran, perkawinan, dan perceraian dalam keluarga raja, kedatangan kapal dan utusan, pembangunan benteng dan istana serta berjangkitnya wabah dengan menggunakan sistem penanggalan ganda Masehi dan Hijriah merupakan kebiasaan Karaeng Pattingalloang.
Pada masa itu, penulisan dan penyalinan buku-buku Agama Islam dari Bahasa Melayu ke Bahasa Makassar diatas lontar giat dilaksanakan. Berbagai lontara yang asalnya dari Bahasa Melayu diduga berasal dari abad ke-17 dan 18, masa permulaan perkembangan Islam di Sulawesi Selatan. Lontara' yang dimaksud antara lain: 
  1. Lontara' perkawinan antara Sayidina Ali dengan Fatima, putri Rasululullah
  2. Lontara' percintaan Nabi Yusuf dan Laila Majnun
  3. Sura’ bukkuru yang dalam bahasa Bugis dikenal dengan lontara pau-paunna Sultanul Injilai.
Lontara' tetap memilik identitas tersendiri yang berasal filosofi dan budaya Makassar. Keterangan ini didukung oleh pendapat yang bersumber dari Lontara Patturioloanga ri Tugowaya, yang berbunyi sebagai berikut :
“...iyapa anne karaeng uru apparek rapang bicara, timu-timu ri bunduka. Sabannara’na minne karaenga nikana Daeng Pamatte. la sabannara’, la Tumailalang, iatommi Daeng Pamatte ampareki lontara’ Mangkasara” 
(.. pada zaman raja inilah mula-mula dibuat peraturan, hukum dalam perang. Syahbandar raja inilah yang disebut Daeng Pamatte. Ia syahbandar, ia pengurus kerajaan, ia juga Daeng Pamatte yang membuat  Lontara' bahasa Makassar).
Referensi :
- Sanggarsenilontara.blogspot.com
- Kompasiana.com
- Iccank-comtar.blogspot.com
- Bugiswarta.blogspot.com
- Wikipedia.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar