BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Meningkatkan kualitas belajar siswa dalam kegiatan
belajar mengajar merupakan tanggung jawab guru, karena guru dengan kegiatan
mengajarnya adalah membimbing aktivitas belajar siswa secara optimal.
Hasil dari
pengajaran guru yang dilakukan secara optimal adalah tingkat prestasi siswa.
Walaupun guru bukan satu-satunya syarat penunjang tercapainya prestasi siswa.
Namun, tidak dapat dinapikan bahwa gurulah yang mempunyai peranan sangat besar
dalam peningkatan mutu siswa, karena guru lebih banyak berinteraksi dalam
kegiatan belajar mengajar di dunia pendidikan. Di samping bimbingan guru dalam
aktivitas belajar, sehingga siswa dapat mencapai prestasi belajar yang
memuaskan, faktor lain yang juga menentukan adalah sikap siswa dalam belajar.
Sikap siswa
selama kegiatan belajar mengajar berlangsung bergantung pada kepiawaian guru
dalam mengelola kelas, termasuk di dalamnya adalah menciptakan suasana yang
nyaman, penampilan yang menarik dan kreativitas dalam menyampaikan muatan dari
materi pelajaran. Hal-hal tersebut merupakan stimulus bagi siswa untuk
mengembangkan minat belajarnya, sehingga yang terjadi kemudian adalah siswa
merespon stimulus tersebut dengan sikap yang positif dan respon sikap negatif
siswa seperti tidak suka, tidak nyaman, tidak menarik, tidak kreatif dan
membosankan dapat dihindari dan pada akhirnya semua itu mempengaruhi tingkat
prestasi siswa.
Namun dalam
realitasnya, respon positif siswa dalam belajar sangat minim, maksudnya banyak
lembaga lembaga pendidikan dewasa ini yang belum mampu mengoptimalkan serta
melakukan penilaian khusus terhadap sikap siswa, justru yang terjadi adalah
prilaku pengabaian terhadap hal ini, sehingga yang tercipta kemudian adalah
sebaliknya, yakni sikap negatif siswa, baik terhadap materi pelajaran, terhadap
guru, terhadap proses pembelajaran maupun terhadap peningkatan mutu siswa
sendiri.
Sikap
negatif yang ditunjukan siswa sebagai respon dari stimulus yang diterimanya
akan berdampak pada tingkat prestasi siswa. Bagaimana mungkin siswa akan
mencapai kualitas, mutu, atau prestasi yang maksimal jika siswa masih
menunjukan sikap apatis, menolak, mengabaikan, dan tidak menyenagi hal-hal yang
berhubungan dengan kegiatan belajar-mengajar.
Untuk
menyelesaikan permasalahan tersebut, guru dituntut mempersiapkan diri dalam
kegiatan belajar mengajar dengan optimal. Guru harus memiliki kompetensi
keguruan sebagai wujud keprofesionalannya. Inilah yang dimaksud Uzer Usman
(2000) bahwa, agar dapat mencapai hasil yang optimal dalam kegiatan mengajar,
guru harus dan dituntut untuk meningkatkan mutu (kualitas) mengajarnya yakni
guru mampu merencanakan program pengajaran sekaligus mampu pula melaksanakannya
dalam bentuk pengelolaan kegiatan belajar mengajar . Sementara menurut Buchari
Alma (2009), salah satu ciri dari perbuatan profesional adalah usaha untuk
meningkatkan keterampilan mengajar (Teaching Skill) .
Dari kedua
pendapat di atas, diyakini bahwa keterampilan mengajar guru akan berpengaruh
terhadap perkembangan diri siswa baik itu dalam ranah kognitif, afektif, maupun
psikomotoriknya. Artinya, keterampilan mengajar guru akan mempengaruhi
pandangan atau kecenderungan siswa dalam belajar. Hal ini bisa diamati dari
sikap siswa dalam kegiatan belajarnya, sebagai respon dari aktivitas guru dalam
mengelola kelas. Karena bagaimanapun guru sangat mempengaruhi cara berpikir dan
pembentukan sikap siswa dalam belajar. Hal ini dapat dilihat dari sikap siswa,
suka tidak suka, merasa nyaman atau tidak nyaman dalam menerima stimulus dari
guru dalam belajar.
Tentu hal
ini tidak mudah dilakukan oleh seorang guru, karena guru dituntut untuk
menciptakan suasana nyaman serta menumbuhkan sikap positif dalam diri siswa
selama kegiatan belajar mengajar, seperti memperhatikan dan menyenangi setiap
situasi, media, objek dari materi yang disampaikan maupun sikap dari guru.
Sehingga guru akan lebih mudah dalam mengembangkan minat belajar siswa dan
memberikan motivasi kepada mereka. Dengan demikian, siswa akan lebih mudah
menyerap semua materi pelajaran, termasuk Pendidikan Agama Islam.
Bagi guru
Pendidikan Agama Islam, keterampilan mengajar itu harus memuat nilai-nilai suci
ajaran Islam, ini dapat diamati dari keterampilan guru dalam mengelola kelas,
termasuk juga disini adalah sikap dan perilaku guru di depan siswanya. Hal ini
sesuai dengan statement yang menyatakan bahwa pendidikan agama Islam sangat
penting, maka guru pendidikan agama Islam dituntut menguasai keterampilan yang
berkaitan dengan proses kegiatan belajar mengajar agar terimplementasi pada
sikap belajar yang baik pula, yang mengarah kepada terciptanya tujuan
pembelajaran .
Namun pada
kenyataannya, kendala yang dihadapi guru dalam mengajar masih sering terjadi,
ini disebabkan guru belum sepenuhnya memiliki kualifikasi sebagaimana
diharapkan, yaitu masih rendah kemampuan penguasaan materi maupun kemampuan
yang berkaitan dengan kompetensi profesionalismenya.
Dari deskripsi di atas, menumbuhkan ketertarikan penulis untuk mencermati
dan meneliti lebih lanjut hubungan antara keterampilan mengajar guru yang
dilandasi oleh kualifikasi kompetensinya dalam mengajar yang berimplikasi
langsung pada perilaku siswa dalam belajar.
B. MASALAH
1. Kurannya motifasi siswa untuk belajar.
2. Timbulnya rasa bosan di dalam pembelajaran.
3. Guru tidak memiliki kreatifitas didalam memberikan pelajaran.
BAB II
PEMBAHASAN
1.2 Membangun Motifasi Siswa Untuk Belajar
Motivasi berpangkal dari kata motif yang dapat
diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk
melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Bahkan
motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Adapun
menurut Mc. Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang
ditandai dengan munculnya “feeling” dan di dahului dengan tanggapan terhadap
adanya tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan oleh Mc. Donald ini mengandung
tiga elemen/ciri pokok dalam motivasi itu, yakni motivasi itu mengawalinya
terjadinya perubahan energi, ditandai dengan adanya feeling, dan dirangsang
karena adanya tujuan.
Namun pada intinya bahwa motivasi
merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.
Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya
penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan
memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai.
Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak
mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas
belajar.
Motivasi ada dua, yaitu motivasi
Intrinsik dan motivasi ektrinsik.
• Motivasi Intrinsik. Jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri.
• Motivasi Ekstrinsik. Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar.
• Motivasi Intrinsik. Jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri.
• Motivasi Ekstrinsik. Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar.
Bagi siswa yang selalu memperhatikan materi pelajaran yang diberikan,
bukanlah masalah bagi guru. Karena di dalam diri siswa tersebut ada motivasi,
yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadaran sendiri
memperhatikan penjelasan guru. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi
pelajaran yang diberikan. Berbagai gangguan yang ada disekitarnya, kurang dapat
mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya.
Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka
motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak
diperlukan. Di sini tugas guru adalah membangkitkan motivasi peserta didik
sehingga ia mau melakukan belajar.
Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, sebagai berikut:
Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, sebagai berikut:
1.Menjelaskan tujuan belajar ke
peserta didik.
Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus yang akan dicapainya kepada siwa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar.
Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus yang akan dicapainya kepada siwa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar.
2. Hadiah
Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.
Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.
3. Saingan/kompetisi
Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.
Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.
4. Pujian
Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun.
Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun.
5. Hukuman
Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.
Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.
6. Membangkitkan dorongan kepada
anak didik untuk belajar
Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik.
Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik.
7. Membentuk
kebiasaan belajar yang baik
8. Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok
9. Menggunakan metode yang bervariasi, dan
10. Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran
8. Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok
9. Menggunakan metode yang bervariasi, dan
10. Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran
2.2 Metode Mengajar Mengurangi
Kebosanan Siswa.
Sangat banyak dan bervariatif metode
mengajar yang telah disampaikan oleh para pakar pendidikan kita baik dalam
maupun luar negeri.
Beberapa metode pembelajaran untuk memperkaya pengetahauan para guru dalam
memberikan materi kepada peserta didik nantinya. Banyak metode mengajar yang
telah disampaikan oleh pakar, diantaraya yaitu
1. The Power
of Two yaitu guru melemparkan masalahnya; masing-masing siswa berupaya mencari
jawaban sendiri-sendiri; bertukar pikiran dengan teman sebelah; diambil jawaban
yang mendekati kebenaran; siswa mempresentasekan jawaban; lalu dipilih jawaban
yang paling benar.
2. Every one
is a teacher here yaitu guru memberikan bahan bacaan, siswa membaca sebentar;
masing-masing siswa membuat pertanyaan dalam sebuah kartu; kartu diambil dan
dibagikan secara acak kepada siswa; masing-masing membaca pertanyaan dan
jawabannya secara bergantian; lalu siswa lain diberi kesempatan memberikan
tanggapan.
3. Critical
Incident yaitu siswa mengingat dan mendiskripskan pengalaman masa lalu yang
menarik dan berkaitan dengan pokok bahasan; siswa lain mengulas dan memberikan
solusi (deskripsi tidak harus dengan lisan, bisa juga dengan tertulis).
4.
Snowballing yaitu guru melempakan masalah; masing-masing siswa berfikir;
diskusi dengan teman sebelah; diskusi dengan teman sebangku lain; dibagi
menjadi dua kelompok besar; masing-masing kelompok presentase.
5. Card Sort
yaitu motivasi dari guru; bagi kartu kosong secara acak; guru mencari kata
kunci di papan; siswa mencari kata sejenis (satu tema) dengan temannya; diskusi
kelompok berdasarkan temanya; menyusun kartu di papan dan masing-masing
kelompok mempresentasekan hasilnya.
6.
Information Search yaitu guru menentukan topik, membagikan teks (materi
Pelajaran); siswa membaca secara berkelompok; guru memberikan pertanyaan untuk
dijawab siswa; kelompok siswa membuat jawaban; presentase.
7.Learning
Start with Question yaitu guru membagikan teks yang relatif baru (asing); siswa
membaca secara kelompok (minimal 2 org); mengutarakan isi bacaan sesuai yang
dipahami; siswa yang lebih memahami materi memberi jawaban dan tanggapan.
8..Team Quiz
yaitu guru membentuk tiga kelompok; tugas secara bergantian untuk membuat soal,
jawaban dan penilaian; buat skor; masing-masing jawaban tiga kelompok (cocok
untuk pendalaman pada pertemuan akhir untuk evaluasi).
9..Debat
Aktif yaitu guru membentuk dua kelompok; mengemukakan permasalahan yang
kontroversial; siswa mempersiapkan argumentasi; berdebat saling membuat
pertanyaan dan tanggapan.
10.Brainstorming
yaitu menentukan topik; siswa mencurahkan pendapat, ide, dan gagasannya; guru
menulis dan menginventarisasi; pendapat yang ada di seleksi dan diambil yang
benar.
11.Elitasi
yaitu menentukan topik; siswa mencurahkan pendapat; ide, gagasannya; guru
menyeleksi dan menulis di papan tulis.
12.Mind
Mapping : Guru membagikan bacaan sesuai pokok bahasan; siswa mencari kata-kata
kunci; siswa membuat skema (peta konsep); presentase, menjelaskan hubungan
antarkonsep yang ada.
13.Role
Playing yaitu guru mengangkat berita aktual yang terkait dengan pokok bahasan;
menunjuk dua orang untuk memerankan karakter tokoh yang berbeda; keduanya
berdialog; peserta lainnya mengamati; guru meminta pemeran untuk menceritakan
perasaannya; guru meminta komentar siswa lainnya (M. Nurdin, 2004: 104-110
dalam Suparlan, 2006,hlm 47-49).
Demikian beberapa metode
pembelajaran di atas, dengan harapan bahwa para guru nantinya tidak lagi
monoton dalam menyampaikan materi pelajaran di sekolah. Penerapan berbagai
metode ini akan sangat membantu siswa untuk memahami sebuah materi yang
diberikan.
Hal ini beralasan karena pada dasarnya siswa tidak terlalu suka pada
sesuatu yang monoton dan statis, sebaliknya siswa lebih suka akan kedinamisan
dan perubahan. Mungkin karena ia “takut” sehingga cara atau metode belajar apa
pun yang digunakan oleh guru siswa tidak pernah protes.
Harapan kedua adalah sikap kita
terhadap inovasi pendidikan haruslah lebih terbuka, arif dan bijaksana dan
tidak menutup diri. Jika ada informasi tentang metode, model, pendekatan,
strategi pembelajaran yang baru, maka seharusnyalah kita terima dengan tangan
terbuka, sehingga hasil pembelajaran yang kita hasilkan bisa lebih baik.
Sebaliknya, peserta didik pun dapat memaksimalkan potensi dirinya melalui
berbagai metode, model, pendekatan dan strategi yang kita terapkan tadi.
2.3. Peranan
Seorang Guru/Pendidik
Seorang guru/instruktur/dosen harus
memiliki kemampuan yang baik dalam menyampaikan materi yang diajarkannya, bila
tidak… maka yang terjadi adalah siswa/mahasiswa akan kurang faham, tidak
menyukai mata pelajaran tersebut atau bahkan anda sendiri sebagai pengajar
tidak disukai. Tidak pelit nilai mungkin hal yang bijak sebagai seorang
pengajar dan tentunya anda akan menjadi pengajar favorit dikelas, tetapi hal
ini tidak mendidik dan merugikan siswa yang anda didik. Berikut ini ada
beberapa tips yang biasa saya lakukan bila menyampaikan materi dikelas :
Sebelum Menyampaikan Materi
- Pelajarilah kembali materi yang akan disampaikan dan buatlah rangkuman atau point-point penting pada materi tersebut, karena mungkin anda banyak mengajar mata pelajaran lainnya maka terkadang sudah agak lupa dengan materi ini sehingga perlu dipelajari lagi agar lebih siap.
- Buatlah diktat atau rangkuman yang dapat di fotocopy atau disalin oleh siswa, sehingga kita tidak perlu merujuk banyak buku kepada siswa. Hal ini juga memudahkan siswa sehingga ia tidak perlu banyak membeli buku. Apabila mata pelajarannya eksak/hitungan, buatlah rangkuman rumus kepada siswa.
- Siapkan soal-soal latihan sebanyak-banyaknya dan dibagi menjadi kategori ringan, sedang, dan susah. Rangkum semua soal tersebut dalam satu buku atau file dan buat memo disetiap soal tersebut… memo ini dibuat agar anda tahu kapan anda pernah memberikannya kepada siswa dan pada kelas berapa, sehingga soal yang sudah diberikan tidak disampaikan lagi pada pertemuan berikutnya.
- Milikilah absen siswa anda, dan buatlah tabel nilai dan presentase kemajuan siswa. Hal ini berguna agar anda dapat mengetahui apakah materi anda telah diserap dengan baik oleh siswa dan siswa mana yang perlu anda bimbing lebih ekstra agar nilainya tidak jatuh.
Saat di Kelas :
- Buatlah suasana yang menarik dan tidak membosankan, untuk itu anda harus banyak latihan agar cara berbicara, sikap, dan metode ajar anda dapat diterima dengan baik oleh siswa. Menjadi guru yang garang dan terlalu disiplin terkadang akan membentuk siswa yang keras juga, untuk itu buatlah siswa takut karena hormat kepada anda dan bukan takut karena hukuman anda. Pernah ada siswa yang sangat nakal, namun ia justru malu dan takut dengan salah satu guru yang sangat dihormatinya. Berikan perhatian anda dengan penuh kasih sayang, bukan mencari kesalahan mereka..
- Buatlah quiz di akhir penyampaian materi, bila waktu memungkinkan hal ini dapat menjadi indikator apakah materi yang telah disampaikan sudah diterima dengan baik oleh siswa. jangan berikan quiz hanya di awal materi, hal ini hanya membuang waktu dan tidak efisien karena secara logika tentunya siswa belum mengetahui materi yang akan disampaikan. Kalo soal quiznya materi hari kemaren itu namanya ulangan… jadi perlu bedakan antara quiz dengan ulangan.
- Sampaikan materi dengan menyampaikan point-point pentingnya saja, jangan terlalu banyak bertele-tele atau terlalu banyak bercerita yang bukan dalam ruang lingkup materi anda. Untuk materi eksak, perbanyaklah contoh soal… sampaikan perlahan dan buat agar siswa juga sama2 ikut berfikir.
- Lakukan sistem ajar yang lebih interaktif berupa tanya jawab, pancinglah siswa agar banyak bertanya. Selain itu ada juga perlunya anda bersenda gurau disela-sela penyampaian materi agar tidak terlalu tegang.
- Pekerjaan Rumah (PR) dapat anda berikan setiap akhir penyampaian materi, namun bila ternyata itu tidak efektif misalnya banyak yang tidak mengerjakan atau ternyata banyak yang saling mencontek pekerjaan teman2nya sebaiknya metode PR nya anda ubah misal dengan beda soal tiap siswa atau cara lainnya.
- Anda perlu melakukan evaluasi terhadap cara anda mengajar, ini bisa dilakukan dengan memberikan questioner pada siswa terhadap cara mengajar anda.
- Anda juga dapat melakukan quiz interaktif, yaitu dengan membaca soal satu persatu dan mahasiswa langsung menjawab.. anda berikan waktu yang terbatas untuk menjawab soal tersebut. Misal bacakan soal no. 1 kemudian langsung dijawab oleh siswa, setelah itu bacakan soal no.2 kemudian siswa menjawab, demikian seterusnya… metode ini membuat siswa berfikir cepat dan tidak dapat mencontek.
Selamat mengabdi, didiklah anak kita untuk kemajuan bangsa dimasa yang akan
datang… Semoga Bermanfaat.
BAB III
KESIMPULAN
1.3 Membentuk Motifasi
siswa belajar
Motivasi
merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.
Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya
penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan
memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai.
Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak
mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas
belajar.untuk itu kita harus membangun motifasi siswa itu terlebih dulu dengan
cara memberikan pandangan-pandangan, memberikan metode pembelajaran yang
berpariasi atau Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Sikap kita
terhadap inovasi pendidikan haruslah lebih terbuka, arif dan bijaksana dan
tidak menutup diri. Jika ada informasi tentang metode, model, pendekatan,
strategi pembelajaran yang baru, maka seharusnyalah kita terima dengan tangan
terbuka, sehingga hasil pembelajaran yang kita hasilkan bisa lebih baik.
Sebaliknya, peserta didik pun dapat memaksimalkan potensi dirinya melalui
berbagai metode, model, pendekatan dan strategi yang kita terapkan tadi.
Seorang guru/instruktur/dosen harus memiliki kemampuan
yang baik dalam menyampaikan materi yang diajarkannya, bila tidak… maka yang
terjadi adalah siswa/mahasiswa akan kurang faham, tidak menyukai mata pelajaran
tersebut atau bahkan anda sendiri sebagai pengajar tidak disukai.
Meningkatkan kualitas belajar siswa dalam kegiatan
belajar mengajar merupakan tanggung jawab guru, karena guru dengan kegiatan
mengajarnya adalah membimbing aktivitas belajar siswa secara optimal.
hasil dari pengajaran guru yang
dilakukan secara optimal adalah tingkat prestasi siswa. Walaupun guru bukan
satu-satunya syarat penunjang tercapainya prestasi siswa. Namun, tidak dapat
dinapikan bahwa gurulah yang mempunyai peranan sangat besar dalam peningkatan
mutu siswa, karena guru lebih banyak berinteraksi dalam kegiatan belajar
mengajar di dunia pendidikan.
Daftar Pustaka :
Hasil penelitian di SMA 1 Dua Boccoe
www.google.com
Teknik Mengajar Yang Baik
dan Efektif
0 komentar
MENINGKATKAN RESPONS
SISWA KELAS VIII-D SMP NEGERI 15 PURWOREJO TERHADAP MATA PELAJARAN IPS PADA JAM
TERAHIR MELALUI PRAMEK (Pembelajaran Rekreatif,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar